Beberapa Jam Sebelum Terang

“Baru pulang?”

“Pulang? Sejak kamu bawa saya ke sini, saya tak tahu lagi apa artinya pulang.”

“Yaaa, pertanyaanku memang salah. Manusia yang tak tahu ke mana atau ke siapa untuk pulang memang tak perlu mengerti arti pulang. Bagaimana malam ini? Kalian bersahabat?”

“Apakah masih ada ruang untuk menjalin persahabatan antara pelayan dan pelanggan? Nilai hubungan kami tak lebih dari tarif per jam yang kamu tetapkan. Kapan kamu akan menepati janjimu?”

Lelaki bercambang tipis di sepanjang janggutnya itu mengerutkan kening. Melihat sepintas di balik kacamata plus nya dalam hening. Menjawab singkat tanpa peduli bahwa manusia di depannya nampak sungguh pening.

“Untuk?”

Ada desah putus asa yang panjang sebelum akhirnya terdengar sahutan kesal, “Tak usah pura pura bodoh.”

“Pura-pura bodoh? Aku ini memang bodoh. Kalau pintar mana mungkin masih tinggal di rumah kontrakan yang bocor di mana-mana ini?”

“Ya, lihatlah, perempuan itu telah membuatmu jadi sebodoh ini.” Ia mengarahkan pandangan pada lelaki di hadapannya, untuk mencari sepasang mata yang dulu pernah begitu ia percaya.

“Punya anak. Ya kan?”

Kali ini tak ada suara apa-apa dari mulutnya. Ia hanya mengangkat bahu, membalik badan kemudian berlalu.

Sebelum berlalu terlalu jauh, ditariknya lengan mulus itu dengan lembut namun penuh gairah. Dikecupnya bibir yang masih sedikit terpulas gincu merah. Menikmati sisa malam yang beberapa jam lagi menuju terang. Ditanggalkannya helai demi helai kain yang melilit lekuk tubuh wanita di depannya yang kini menggeliat nikmat.

Lengan wanita itu memberontak. Tapi dekapan lelaki itu tak sanggup ia tolak. Dari matanya tangis mulai berderai seiring wajah mereka kian mendekat. Bibirnya bergetar ketika mereka mulai berpagutan. Begitu ciuman itu terlepas, ia berkata lirih di antara deru napasnya, “I love you.”

Beberapa jam sebelum terang. Foto sepasang manusia dengan gaun putih dan tuxedo hitam dengan mesra saling memandang. Tergantung dengan pigura kusam di dinding ruang tamu sebagai saksi.

Telepon seluler di meja makan bergetar. Lelaki itu menjangkau telepon itu kemudian bercakap cakap sambil masih sibuk memeluk tubuh wanita tanpa baju di sampingnya. Setelah telepon ditutup ia berbisik, “Nanti malam kamu jalan sama Om Broto lagi ya, sayang.”

Bandung, 9 Agustus 2018

Francessa dan Yoga

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Nak

Nak, tak apa kamu betah duduk di depan kulkas menata magnet-magnet buah membentuk kata sesederhana “papa” meski mamamu menyuruhmu tak menghalangi pintu.

Nak, tak apa kamu mencoret-coret dinding kamar sampai penuh warna, urutan angka, dan entah apa meski papamu berulang kali mengecat dinding itu.

Nak, tak apa berdiri di atas meja lalu menyanyi keras-keras di toko oma meski orang satu pasar menoleh lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Nak, tak apa berulang kali bongkar pasang balok-balok kayu kecil berbentuk persegi, setengah lingkaran, dan segitiga ├Čtu meski kakakmu acuh berkata, “kok ya engga bosen main itu.”

Nak, tak apa kamu takut dan menangis tersedu-sedu ketika waktu itu kamu hilang di pasar, tersesat tak tahu di mana papa mamamu saat itu, karena untuk anak seusia lima kamu sungguh nekat.

Nak, tak apa kau menjalani dengan tentangan sana-sini, tantangan sana-sini, tersesat sana-sini, karena dengan cara yang tak terduga kau tak akan mengira nanti selalu ada apa-apa di sana-sini.

Peluk erat kamu.

Aku, yang kamu dua puluh lima tahun kemudian.

Bandung, 2 Agustus 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Akhir Mimpi

Mimpi setinggi langit berakhir saat mereka takluk melalui kisah perjuangan abadi dan terpatri di benak jutaan warga. Berlalu lalang menikmati sore yang panjang dengan langit terang di musim panas itu. Sejumlah pengemudi memasang indera pendengaran, mata, dan seluruh perhatian mereka, tertuju ke yang terpisah jarak 1,900 kilometer. Kami duduk di belakang melihat kelakuan ia yang menjerit kegirangan di tepi jalan. Jeritan kegirangan dengan perasaan riang. Namun, tidak lama berselang, keheningan dan kekecewaan mengiringi. Satu per satu kecewa menggantungkan mimpi.

Namun, dua pekan terakhir melekat di ingatan. Menghidupkan kembali gairah. Teriakan yang membahana. Ekspektasi mendadak berganti harapan tinggi untuk juara. Bagaimana pun, mereka telah membuat bangga.

Malam sudah berada di atas kereta. Ia sontak berteriak gembira karena tidak berharap banyak. Tentu sangat bangga, karena kesayangannya mampu memukau untuk pertama kali sejak bisa mengajak hujan pada sore itu.

Ya, ia telah kembali jatuh cinta.

Bandung, 26 Juli 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rakus

“Masak apa hari ini, bu?”

“Sup tulang iga, ayah.”

Perempuan berdaster bunga-bunga itu melirik ke arah lelakinya yang baru pulang kerja. Mencuri pandang rautnya yang nampak lelah tetapi gelisah. Tak ada yang bisa disembunyikan dari nanar mata pria yang dinikahinya sewindu lalu walaupun tertutup topeng keras rahangnya. Namun tak ada pertanyaan yang ingin diajukan. Perempuan itu mencepol rambutnya dengan awut-awutan. Tak ada dandanan bak wanita karir ibukota yang setia bergincu dengan alis melengkung seperti dulu. Kini cukup berkutat di dapur saja sudah syukur.

Masakannya sudah siap. Diletakkannya di meja makan berbangku dua berhadapan. Disiapkan dua mangkok, dua pasang sendok, dan air minum di gelas kaca seperti biasa. Lelakinya duduk berhadapan dengan telepon seluler di tangan. Diletakkannya di atas meja dengan layar ditelungkupkan di bagian bawah.

“Yuk makan, yah.”

Masih raut sedih di sana. Benak lelaki itu berkelana ke mana-mana. Satu menit sebelumnya sebuah pesan kembali dikirimkannya ke seseorang. Sudah tiga hari, namun tetap tak ada balasan hingga sekarang.

Sementara perempuan itu mulai menyuap sup nya dengan rakus, benaknya pun ikut mengembara bahwa perbuatannya benar-benar benar karena telah menghentikan kerakusan lelakinya. Rakus akan wanita yang seharusnya tak pernah ada di balik selimut rumah tangganya.

Bandung, 19 Juli 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tinggal – 12 Juli 2018 (#61)

Malam ini tidak ada bintang. Seperti biasa malam ini pekat dan sunyi sekali. Bahkan suara jangkrik di kebun belakang yang biasanya ada saja tak kutemui. Gerah, udara sedang tidak dingin seperti yang sudah-sudah. Tercenung di tempat tidur. Mata masih mencelik, masih saja terpekur. Pikiran seperti biasa menjelajah ke mana-mana. Tiba-tiba ada ketuk di tempurung kepala. Seperti tamu-tamu yang pernah singgah. Kali ini entah kejutan siapa lagi yang tiba.

“Eh, kamu Kecewa. Datang bersama siapa?”

“Ada Sedih, Marah, dan Berserah.”

“Rombongan ya kali ini. Mau minum apa? Teh, kopi?”

“Kami tidak lama. Karena aku hanya mampir sebentar.”

“Seperti biasa ya, Kecewa. Kamu tiba-tiba meninggalkan. Lalu sekerat dirimu tak bisa lepas. Hanya tersisa aku yang ditinggalkan. Bersama tiga orang kawanmu itu kan.”

“Hehehe..ya memang begitulah aku. Mendadak datang tanpa pesan, lalu pergi tanpa kesan. Omong-omong, kawanku di ujung sana ini memohon-mohon padaku untuk tinggal selamanya di rumahmu. Itu juga kalau kau setuju.”

Aku melihatnya sekilas. Ceking, kumal, tetapi pembawaannya tenang. Tidak berangasan seperti kawannya yang pertama, atau bermata bengkak seperti kawan yang kedua. Kawan Kecewa satu ini memang sungguh berbeda. Tak banyak bicara. Kupikir tak ada salahnya.

“Mulai malam ini?”

“Yep. Berkawan baiklah dengannya. Jadi ketika kau ditinggalkan atau meninggalkan tak perlu lah kita-kita ini datang.”

Kecewa menimpali lagi.

“Nanti kalau kalian sudah akur, jadi sahabat baik, dia juga betah di rumahmu, mungkin dia akan bawa rombongan lain untuk singgah. Atau malah tinggal bersama kamu.”

“Siapa lagi?”

“Hei, Berserah. Kalem sih boleh. Tapi dijawab lah dia nanya.”

“Namanya Pengampunan, Iman, Harapan, dan Kasih. Umm..jadi, aku boleh tinggal?”

Desir angin mulai masuk ke dalam rumah. Sejuk. Mungkin memang perlu pintu hati tak tertutup rapat hingga dipenuhi perdu sembilu. Awan hitam berarak. Malam seakan terkoyak. Untuk setitik cahaya memaksa melesak. Malam ini, sebentar lagi, kurasa akan ada bintang.

Bandung, 12 Juli 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Sedikit

Melayang aku dibuatnya.

Ketika ia tiba menuntut perhatian semestanya.

Lalu yang ada justru aku mengendap-ngendap mengikuti tiap gerak-gerik tanpa perlu diketahui.

Cukup sejarak ini.

Tak perlu mendekat terlalu dini, namun tak juga ingin menjauhi.

Karena ada masa tiba-tiba ia lari, pergi, tak kelihatan lagi.

Dan pada saat itu kuusahakan sedikit air mata, sedikit duka, sedikit kecewa, sedikit murka.

Sesedikit mungkin.

Sesaat, ketika suaranya kembali merambat di udara yang tak bisa kuhirup hembuskan.

Kuusahakan sedikit tertawa, sedikit suka, sedikit berharap, sedikit bahagia.

Sedikit demi sedikit.

“Meoooong…”

Coba dengar. Benar, ia kembali pulang.

Bandung, 5 Juli 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Gemar Menggambar

Aku duduk di meja belajar lipat sambil memandangi kertas di depanku yang masih kosong. Mau memulai sebuah coretan di sebuah lembaran baru yang masih bersih itu susah. Mau diisi apa, mau digambar apa, bingung. Jadi hati-hati sekali daripada sekali gores, hapus lagi. Apalagi kalau penghapusnya tidak bagus, nanti berbekas.

“Pak, ini jadi mulai dari mana?”

Pak kumis berkacamata dengan topi pet hitam itu nyengir. Di sebelahnya ada satu papan yang ditempel beberapa kertas. Dia gores garis sederhana di kertas pertama. Aku coba meniru. Sebuah angka 4.

“Gimana? Mudah bukan? Yang penting ayo berani memulai.”

Nyengir lagi. Memperlihatkan deretan giginya yang agak kuning. Walaupun aku lihat dari jauh, tetep kelihatan. Iya. Mudah sih. Ya iya lah cuma gitu doank juga aku bisa.

Lalu lanjut ke lembar berikutnya. Tiap step diulang lalu ditambah tarikan gores lain. Aku melanjutkan di kertas yang sama. Dia melanjutkan lagi sampai di 1 lembar sebelum yang terakhir. Sudah jadi sebuah kapal nelayan dengan bendera merah putih di tiang, berlayar di laut tenang.

Si bapak nyengir lagi. Memang banyak senyum dia.

“Nah dari sini kalian bisa menambahkan suasana yang kalian suka. Bebas. Bisa ada ikan di laut, burung di udara, matahari tenggelam, atau ada kapal lain di sekitarnya. Coba ditambahkan dulu sambil kita lihat gambar yang dikirim teman-teman seluruh nusantara. Ini diaaa..bagus!”

Aku melihat hasil gambarku sendiri di kertas. Lucu juga ya. Dari angka 4 berubah jadi benda lainnya. Diberikan sesuatu yang sederhana di lembar kertas kosong kita, kemudian bisa jadi bagaimana nantinya, sebagian andilnya memang tergantung kita. Mau ada ketenangan ikan di laut, disemarakkan ribut kicau burung di udara, sendunya senja, atau menghadirkan teman nelayan di sekitar kapal kita. Dan semuanya itu berakhir dengan kata “Bagus!”. Dari kehidupan. Sambil nyengir.

Pak Tino Sidin..Pak Tino Sidin.

Bandung, 28 Juni 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment