Aku Muak Dengan Idealisme-mu – 12 Mei 2017 (#47)

Pada satu titik aku pernah terlalu muak dengan idealisme-mu. Karena bagiku idealisme tak ubahnya bentuk lain egoisme. Lalu aku tak bisa menyangkal karena begitu banyak manusia mendewakan idealisme yang adalah akar kesuksesan di kemudian hari, yang akan dilihat orang pada suatu ketika, dan diimpikan setiap manusia ketika manusia yang menjalaninya telah menutup mata. Dibungkus sebuah garansi akan tak ada kata menyesal bila menjalaninya.

Pernahkah kau di tengah perjalanan lalu sungguh lelah? Pertengkaran batin yang tak sudah-sudah. Pertentangan bertubi karena tekanan keadaan sekarang. Merobek lembar-lembar kekuatan yang tersisa di dalam rasa. Dengan labeling dari mereka yang mempunyai idealismenya sendiri.

Segala keputusan bukanlah sebuah kebetulan. Namun adakah kau mengerti bagaimana semesta bekerja sesungguhnya? Tidak, aku yakin tidak. Dugaan dan kemungkinan saja yang bisa diutarakan. Hingga rasa dalam hati bertubrukan satu sama lain mencari jawaban kebenaran yang sesungguhnya akan tiba pada saatnya ketika kita tak memperbanyak bicara, menahan lidah, dan menghentikan ketikan aksara-aksara satir di social media.

Konflik yang kadang tak bisa dicerna secara logika, mempertanyakan bagaimana seharusnya manusia bercermin pada dirinya untuk mengetahui apa yang dimau, apa yang kekasih hatinya mau, apa Sang Empunya semesta mau. Perenungan terdalam untuk kembali pada hakekatnya hidup berdampingan bagaimana sebaiknya, terantuk pembeda yang seharusnya tak menjadi perbedaan dari masing-masing isi kepala yang berbeda-beda. Beda selamanya tak bisa bersatu. Hanya perlu satu beda dijejalkan terus menerus hingga menjadikan mata buta bahwa ada satu sama yang ingin merangkul karena terlalu rindu.

Ada kalanya diam menjadi hal yang tak lagi bisa didiamkan. Kisah-kisah yang seharusnya ada namun tertekan kodrat. Lara karena keputusan-keputusan tak berkeadilan yang lahir dari…label? Nama? Sebutan? Menelanjangi kedalaman pemikiran namun menyerang identitas. Tak perlu susah hati menelisik permasalahan besar, mulai dari cermin diri. Pernahkah merasakan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tak perlu yang menyerang identitas? Debat tiada habisnya tanpa empati dan solusi berarti.

“Sekali lagi, aku muak dengan idealisme mu, bodoh!”

“Kamu yang dengarkan idealisme ku, manusia tanpa logika!”

Bolehkah aku minta tolong? Sanggah itu biar menjadi senandika hati sendiri. Mengatur kepingan cerminmu dalam doa bila terlanjur pecah oleh sengketa. Karena sungguh, aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

Dan beberapa manusia memilih menuangkannya dalam seni menyanyi, menari, puisi, musik, bunyi. Atau puisi yang menyanyi.


Bandung, 13 Mei 2017

Francessa, yang bersenandika setelahnya

PS: tenor Daniel Victor, soprano Delta Damiana, pianist Nicholas Rio, penari Galuh Pangestri. Didukung oleh Sonamusica Music Studio.

PSS: terdapat kalimat diambil dari cuplik puisi “Dalam Doaku” Sapardi Djoko Damono

Dok. @poemuse.id

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Berbenah

“Hallo Ran….”

“Masih inget aja nama asli gue.”

“Iya lah.”

Sapa itu masih jelas di kepala ketika terakhir kali kita jumpa di stasiun kereta bersama Jakarta Walking Tour @JKTgoodguide. Yang ternyata benar-benar terakhir kalinya. Ada banyak kejadian setelahnya. Kejutan-kejutan sepanjang tahun yang membuatku tersenyum. Menemukan tulisan-tulisanmu, melihat ulas bibir yang tertawa dengan gurat muka bahagia namun teduh ketika ada cincin melingkar di jari manis dan kau berdampingan bersama wanitamu, kemudian mengetahui nama aslimu setelah selama ini hanya mengenal dan memanggilmu dengan sebutan Om Em.

Satu tulisan di blogmu yang hingga kini kuingat adalah saat kau mulai mengosongkan kamarmu, menyimpan yang memang harus disimpan, membuang yang tak terpakai, memberi kepada yang lebih perlu. Ada rasa lega di hatimu ketika akhirnya merelakan “barang-barang” di kamarmu. Mulai memberikan ruang kosong untuk nanti diisi lagi oleh sesuatu baru. Aku menuruti saranmu ketika itu. Aku mulai menyeleksi barang-barangku. Terkumpul dua dus besar penuh yang telah kupilah menjadi dus yang harus dibuang dan dus yang dihibahkan. Kau benar, Em. Ruang kosong yang tercipta membuatku lebih bisa melihat luas dan bernafas. Bahkan aku menemukan hal-hal yang terselip yang ternyata benar-benar kuperlukan saat itu. Aku berbenah.

Tulisan-tulisan yang hadir untukmu melalui surat-surat cinta hari ke tujuh saat itu kubaca satu-satu. Menyentuh, Em. Aku yang kala itu telah menyiapkan satu surat, tak sanggup untuk meneruskan. Hanya tiga kalimat di awal paragraf tadi itu. Mereka yang pernah secara langsung bertukar sapa, mereka yang pernah kenal dalam kicauan twitter, mereka yang tak pernah sekalipun mengenalmu. Iya, ada banyak kata “pernah”. Karena kembalimu ke Sang Pencipta yang tiba-tiba tak meninggalkan sedikit pun jejak bahkan di dunia maya. Jejak-jejak itu hanya tertinggal ada di kepala, di kenangan, di hati. Dan melalui ratusan surat @PosCinta, mereka berbenah. Aku? Baru sekarang bisa. Sungguh sepertinya masih banyak hal yang bisa diceritakan. Seperti mengapa kau memakai nama Em dan cukup panggil aku Francessa saja.

Salam hangat dari sini, yang terselamatkan oleh karena kau mengadakan @PosCinta bersama kawan-kawan lainnya. Sedih karena kehilangan mungkin telah luluhkan semangatku. Melepas ragu ketika melalui surat-surat cinta yang manis, para penulis tanpa sadar saling menguatkan. Melalui sepucuk surat juga kami melepasmu yang pergi lebih dulu.

Senang semesta memberi kesempatan mengenalmu secara langsung, Em. Aku kini kembali berbenah.

Bandung, 29 Maret 2017

Francessa

Dok. Sam Bonaventura

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Dukungan

“Ketika sebuah dukungan tidak didukung sebuah pandangan oleh karena ketakutan akan kata keberpihakan. Ada dua masalahnya. Dari dalam hati ada ego, dari hati yang lain ada iri.

Ah..yakin seyakin-yakinnya keduanya sebenar-benarnya bukan suara hati.”

 

Bandung,  8 Maret 2017

Francessa

Quote | Posted on by | Tagged , | Leave a comment

Trivia Our Valentine’s Journey

Karena sudah rame sebelum valentine’s day, jadi mari ramaikan lagi hari ini..

*mumpung lagi santai

1. Anniversary? 

In relationship 12 June 2013, he asked me through Skype at 02.30 am Korea time. Thanks God, Sweden found skype. Ha!

first

Thanks God, we have good wifi and internet data

Married 12 December 2015 at 10.00 am 🙂

Iya, posisi kita kebalik dan ga ada yang ngingetin :”))

2. First Date?

Jeju Love Museum. Abis geje keliling museum, akhirnya kita duduk ngobrol di taman sambil menikmati senja. Eeeh..pas mau pulang kok ga ada taxi blas, akhirnya pulang jalan kaki sambil kedinginan deh :’))

3. How did you first meet?

Di ruang piala belakang sekretariat PSM Unpar. Dia sebagai sie latihan nge-ambitus gue pas audisi masuk PSM Unpar. Sayang ruangan ini udah dirobohin dan diganti bangunan baru 😥

4. What is your song together?

Ga ada rasanya, akhirnya memutuskan wedding dance song kita “A Thousand Years”- Christina Perri. Iya, mainstream banget. Hahaha.. Wedding dance yang nyaris batal karena hujan ini cuma disaksi’in beberapa temen deket yang belum pulang dari acara resepsi pernikahan kita.

Only us, home band, and photographer

5. Do you remember the first movie?

Umm…hmmm…enggak loh, sumpah. Nonton apa ya?

6. First road trip together?

Jeju Island. Pulaunya tenang, orangnya ramah, makanannya enak, banyak, dan murah (dibanding Seoul). Will be back again definitely..

img_8647

Jeju local bus ticket with Indonesian christmas song in their radio

7. Do you have kids?

Not yet. Don’t ask why or when

8. Which of you is older?

Dia laaah..

9. Who was interested first?

Dia. Gue yang kode-kode’in. Lol. Yang terpenting adalah semua berlangsung tepat waktu :*

10. Most sensitive?

Dua-duanya. But his control is better than me.

11. Worst temper?

Gue. Don’t you ever try!

12. Who is the funniest?

Di suatu siang ketika mobil yang kami kendarai di tengah jebakan kemacetan kota Bandung, kami mengobrol untuk menghilangkan kebosanan. Membahas apa saja, salah satunya tentang kuliner kota asal masing-masing.

Gue: “Di Solo itu ada soto enak. Namanya soto kuali. Jadi sotonya dimasak di kuali alias gentong tanah liat gitu. Katanya sih bumbunya kan mengerak di bawah tuh. Makin sering dipake kualinya makin enak. Bla bla bla..”

D: “Soto kuali.. soto ember.. soto ciduk (gayung). Enak kabeh.” #tanpaketawa

***

Di suatu siang ketika mobil yang kami kendarai dalam perjalanan di tol kota, kami mendengarkan radio lokal yang memutarkan lagu-lagu 90an untuk menghilangkan kebosanan. Salah satu lagu Westlife “Flying Without Wings” sedang diputar saat itu. Kami diam mendengarkan. Tiba-tiba…

Gue: “SOOO…IMPOSSIBLEE!!!! AS THEY MAY SEEM. YOU’VE GOT TO FIGHT FOR EVERY DREAM!!!”

D: #shock #speechless 

***

Yeah, you choose! And sometimes we’re laughing out loud for something that’s not funny at all for other people.

13. More social?

Tergantung kota alias lagi di mana kitanya.

14. More stubborn?

Me. But I call it persistent :p

15. Wakes up first?

Biasanya gue. Tapi kalo dia duluan yang bangun, artinya dia tiba-tiba kebangun dan ga bisa tidur dari jam 3an. Ehehehe..

16. Has the bigger family?

Dia. Kadang gue tanyain nama saudara pihak papa atau mamanya aja lupa :’)

17. Eats the most?

Kalo ada tempe banyakan dia. Pasti!

18. Who said i love you first?

Him :’)

Masa-masa single sebelum pacaran sama dia, gue memutuskan ga akan bilang “i love you” lagi dan ga akan maksa pacar/ suami gue nantinya ngomong “i love you”. Gue cuma ingin membiarkan kalimat itu keluar dengan sendirinya, tanpa diminta, bermula dari rasa di hati saja. Beberapa hari setelah berpacaran, ketika mau menyudahi skype, he said “love you” to me and I just quiet. After several times, i reply back. Until now.

19. Hold the remote?

Ndak punya tv.. T_____T

Ndak punya AC.. T_____T

20. Better cook?

Well, picture talks more than words

21. More romantic?

Dia selalu bilang kalo enggak romantis sama sekali. Tapi buat gue, dia romantis dengan caranya sendiri. Ga pernah nolak waktu gue minta tolong buangin sampah dapur keluar rumah atau bersihin closet kamar mandi. Buat gue itu salah satu caranya karena tahu gue ga suka kotor-kotoran.

Perhatian yang dia beri itu dengan banyak mendengarkan. Pernah gue lagi kepengen ronde jahe, terus ga jadi beli gara-gara udah kenyang makan malam. Gue bilang, “Lagi ngirit juga, kapan-kapan aja. Enggak juga gpp.”  Beberapa hari kemudian, malem-malem sepulang gawe dia bawain seporsi ronde jahe buat gue. Katanya, “Kan waktu itu kamu kepengen ronde.” Gue langsung trenyuh..

Tapi ngasih tu ronde besok paginya gara-gara dia lupa naruh si ronde di kait motor bawah :’))))

Apa gue romantis? Gue bisa jawab: kadang-kadang. Kayanya…

Thank you for tears, laughters, and spend time for silly together, D..

PS: luvyou

Bandung, 23 Februari 2017

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pada Suatu Hari Nanti – 12 Februari 2017 (#44)

Kesalahpahaman percakapan. Peningnya kepala karena tagihan bulanan. Ketidakpahaman maksud dan tujuan gegara kelelahan dalam perjalanan. Bukankah itu yang beberapa hari ini terjadi pada kita? Menangisi ketakutan yang belum terjadi atau mengkhawatirkan rencana. Melupa pada keimanan diri bahwa keyakinan dan cinta yang dicurahkan pada setiap yang kita lakui hanya Ilahi yang restui.

Gegabah bila terlalu cepat aku mengubur mimpi-mimpi yang menunggu waktu terealisasi. Dapatkah kita mengelabuhi waktu dengan kerasnya diri berusaha agar aku tak terlalu lama menunggu? Kemustahilan sudah kubuang jauh-jauh dari kepalaku. Kujejali harapan semacam “semoga pada suatu hari nanti” meski tahu teriring dengan tak hanya seulas senyuman namun juga sebongkah kekecewaan.

Menyaksikan ini seakan membawaku ke masa depan ketika lelaki itu nanti kamu dan mereka cinta kita. Pada suatu hari nanti.

Boleh?

Bandung, 12 Februari 2017

Francessa

Tribute untuk mereka yang sedang menunggu kehadirannya

Dok. Budi Santoso

 

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Nak

Nak,

Kumulai suratku dengan kata-kata, “banyak hal yang belum dan tidak pernah tersampaikan kepadamu sebelum kita berpisah.” 

Yang seharusnya juga cinta, peluk hangat, dan kecup lembut di pipimu ketika terlelap. Sungguh dalam tiap detik yang terlewat dalam sendiri, merindukanmu menjadi kegiatan yang tak bosannya kujalani. Melalui berkas mentari pagi yang menyinari jendela ruang tidur ini, hati selalu menyapa engkau hai malaikat kecil.

Nak,

Aku masih mengingat satu hari ketika melihat bulatan kecil menuju sebuah kehidupan. Yang berdiam sendiri dalam sunyi dan kini menjadi kewajibanku menjagai. Tanpa sekedip, tanpa kata, hanya diam mengagumi. Bahwa engkau menuju ada. Seketika bahagia ini membuncah, rasa takut pun menyeruak, dan kemudian hati entah mengapa mulai berlapang dada kepada segala kemungkinan yang akan ada. Terbaik, terburuk, semenyedihkan pun.

Nak,

Nyata-nyatanya sungguh berbeda. Yang tiba-tiba tiba lalu pergi tanpa bicara ini mengejutkan sekali. Deretan malam ketika mengelus perut dalam diam menjadi satu-satunya caraku berkomunikasi. Menunggu waktu temu yang tertahan oleh jarak kepada lelaki yang kucinta sedikit terobati terganti rindu kepada detak yang kunanti-nanti. Cinta bentuk apa kepada yang hanya nyaris ada?

Nak,
Tenanglah di sana, aku yang sedang berada di gerbong berbeda ini akan terus berusaha baik-baik saja. Kau sudah satu kereta bersama Yang Kuasa bukan? Tolong tanyakan, bila segala hal di kehidupan telah tertulis oleh Sang Maha, kehilanganmu mungkinkah cara-Nya agar aku sehari lebih dewasa menanti seseorang yang akan kupanggil “nak” juga? 

 

Bandung, 10 Februari 2017

Francessa

Tribute untuk para wanita yang nyaris menyandang sebutan mama

Dok. Sam Bonaventura

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Ada

Mencintaimu tiba-tiba ini tak perlu diumbar mana-mana. Melagukan gundah pun pilu cukup diam-diam seolah bercakap dengan engkau saja. Bermain dengan tanda tanya atas segala macam pertanyaan yang tak sempat terlontarkan saat menungguimu berbaring lemah di sana. Hanya mata saja mampu siaga dengan lidah kelu tak bicara.

Mampukan aku ketika segala takut merenggut. Jadikan aku selalu wanita terbijak bagi lelaki yang membawa separuh jejak jiwamu. Lalu penuhi aku dengan kalimat penghiburanmu yang pernah sudi menghampiri meski tak lama kunikmati. Aku tahu pasti ke mana engkau bermuara. Dan biarkan lengan ini mencemburui rindu dan doa yang lebih sering memelukmu itu.

“Maaf ya, papa ga bisa ada di pernikahan kamu.” – Papa yang saat itu terbaring sakit di rumah sakit.

Pa, maafmu waktu itu sebenarnya sungguh tak perlu ada. Yakinku engkau ada di tengah-tengah kami mengucap janji. Sekalipun kita tidak lagi di jingga senja sama, namun kutahu engkau selalu ada mengamati dari atas sana.

Pa, apa kabar? Di surga sehat?
 

Bandung, 9 Februari 2017

Francessa

Tribute untuk papa mertua

Dok. Otto Sidharta

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment