Sekolah

Berbicara tentang sekolah, sepertinya menyenangkan-menyenangkan saja. Karena mungkin tidak ada kendala yang berarti kala itu. Menangkap pelajaran dengan mudah, interaksi dengan kawan sebaya tak ada masalah, mengalami cinta monyet lucu-lucuan di usia dua belas juga pernah. Ketika berjalan waktu dan bertemu dengan berbagai macam karakter, ternyata untuk beberapa orang sekolah bukan sesuatu yang selalu indah. Ada perjuangan berat yang sungguh susah untuk anak seusia mereka kala itu. Bagi saya, pengalaman sekolah dari TK sampai SMA tentu tak semuanya indah.

Membuat seorang anak batita menangis karena saya “ancam” di atas ayunan ketika saya TK, pernah. Disuruh guru berjalan serupa anjing hingga merasa dipermalukan di depan kelas saat SD, pernah. Mematahkan hati seorang pria yang menaksir saya saat SMP, pernah. Dilecehkan ditowel pantat saya oleh murid sebaya saat SMA dan guru BP saat itu tidak bertindak menghukum atau memberi peringatan, pernah. Komplitkah kejadian masa-masa sekolah saya? Yaah, lumayan lah ya.

Tetapi saya memilih bahwa dunia sekolah itu menyenangkan. Lagipula selama masih bisa bernafas, kan kita akan selalu belajar. Belajar di sekolah kehidupan. Yaelaaahh..sok iye banget kalimat barusan yak! :’)))

Hal-hal yang tak mengenakkan yang pernah terjadi saya anggap sebagai tempa ketika nantinya tak ada guru formal yang mengajar dan menjaga saya di kehidupan masyarakat. Pilihannya hanya dua, menjadi tangguh atau rapuh. Yang baik-baik selama masa sekolah saya terima dan simpan sebagai kenangan indah yang akan selalu ditertawakan bersama mereka yang terlibat di dalamnya. Yang buruk-buruk saya terima juga kemudian saya lepaskan agar supaya lebih lapang dan lega. Ya buat apa juga dibawa terus? Hati-hati, nanti jadi kurus.

Jadi…ayo sekolaaaaahhh~~

Ps: kalau kalian yang membaca kalimat terakhir itu dengan melagukannya, ok fix kita seangkatan :’)

Bandung, 13 Desember 2018

Francessa

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Surat Warisan

Dengan ini aku mewariskan pada satu wanitaku yang tak menyerah dan tak pernah lelah berdiri di sebelah dan tiga perempuan kecilku yang selalu membuat hatiku meriah, segelas air putih. Bahwasanya agar segelas air putih ini dipergunakan sedemikian rupa agar:

1. Melegakanmu dari dahaga cerita.

2. Membilasmu dari rasa bersalah.

3. Memurnikanmu dari segala racun kesakitan asumsi.

4. Menyiramimu dari kekeringan hati.

5. Mendinginkanmu dari panasnya realita.

Dan yang terutama agar supaya segelas air putih ini memberimu kehidupan bila hati sedang merasa mati dijerat sepi. Layaknya segelas air putih yang menyelamatkanmu dari dehidrasi. Seperti ucapanku sebelum pergi bahwa keputusan apa pun itu, aku mendukungmu dari belakang sini.

Bandung, 23 November 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dari Peri

Dari sekerling bening cinta yang tanpa akhir.

Kamu terlanjur terlahir.

Dengan takdir tak akan pernah menyingkir.

Atas bulir-bulir air apa pun yang mengalir.

Dari roda untung malang yang tak pernah berakhir.

Segala yang tak benar akan menghantuimu seperti bau anyir.

Terbekatilah kamu.

Terkutuklah kamu.

Mau pilih mana?

Bandung, 15 November 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

A

Namanya A.

A yang harus terlihat kuat, walau tersengal oleh nafas yang memberat. Ia masih akan tetap tertambat. Meski perubahan musim kadang cepat atau malah makin melambat, tetapi tak menjadikannya terhambat. Gurat demi gurat di setiap jengkal urat, selalu punya cerita yang tersirat. Menyusuri kedalamannya sama saja dengan menyerahkan diri untuk terikat. Oh, maaf, salah! Terserap, kata yang bisa dibilang lebih tepat.

A itu penakut. Ketakutannya adalah keberanian untuk terlalu berasumsi. Padahal A tahu asumsi membunuh seketika lalu mati. Ironi!

A itu pemberani. Keberaniannya adalah mengorek ketakutannya dalam-dalam sekali. Ironi?

A tak mudah membiarkan semua-semuanya menelisik. Meski ada pinta iba berbisik, tetap bersikukuh tak membuatnya terusik. Ia mengamati dengan penuh selidik setiap yang tiba-tiba tiba, memilah apa yang benar-benar benar, dan ketika berhadapan pada misteri hanya bisa melirih, “hati-hati, hati”.

Ketika A menerima sesuatu, kekurangan A hanya satu, ia akan memberi lebih dari yang kau mampu tahu. Itulah, hanya yang murni yang begitu mudah mengisi nadi pun sanubari. Memberi dengan tenang untuk tumbuh, berkembang, besar, lalu menaungi.

A, yang dalam bahasa lain adalah R.

Akar – Root.

Bandung, 14 November 2018

Francessa

Sebagai kado ulang tahun untuk A. Atau R.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pada Suatu Ketika di Suatu Kota

Di tiap tarikan nafas yang kuhembuskan, kabut putih itu selalu menyela. Berada di antara degup yang berjaga-jaga dan senyum tawa yang mengada. Sudah terlalu lama tak bersua pun langsung bertatap muka. Sore itu setelah kecup lembut untuk pertama kalinya, dalam balutan mantel hitam dan syal hijau tua, kaki ini berjalan menembus dingin yang menusuk menuju sebuah taman kota. Tak jauh dari tempat penginapan hanya untuk dinaungi ranting pohon cemara dan bercakap-cakap saja. Atas semua kalimat yang selama bertahun-tahun tersimpan di laci hati sebagai rahasia. Canda atas bagaimana semesta bekerja hingga lahir kata kita diantara aku dan dia. Aku memeluk lengannya, menyembunyikan telapak tanganku yang mulai membeku seiring senja membiru. Meletakkan dagu di bahu. Lalu diam dan mensyukuri detik itu. Tak mencari tahu bagaimana kita dulu pun nanti akan menuju. Dengan sepatu boot warna abu yang beradu menyusuri jalanan berbatu dan rumput yang basah oleh salju, kita berjalan tak bersisian karena jalanan raya di samping kiri yang begitu ramai oleh apa saja yang melintas tanpa henti. Saat itu aku di belakang mengikuti langkahnya bersama hening dengan kepala yang riuh. Sesekali dia menoleh ke belakang memastikanku mengikuti agar tak tertinggal jauh. Dia mengulurkan tangannya mencoba menggandeng tanganku. Namun yang kudengar saat ini sayup kudengar lagu Queen paling sendu.

“Love of my life. You’ve hurt me. You’ve broken my heart. And now you leave me. Love of my life, can’t you see? Bring it back, bring it back. Don’t take it away from me because you don’t know what it means to me.”

Bandung, 8 November 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

B

B. Aku mengenalnya sejak lama. Mungkin ketika beberapa hari setelah aku lahir pun aku sudah berkenalan dengan B. Sudah tak perlu lagi dihitung kapan, di mana, pada saat apa aku berhura-hura bersama B. Kejadian demi kejadian yang tak pernah terlupakan. Selalu ada seperti misalnya:

Ketika usia tiga aku menyambut B untuk bernyanyi dan bermain di halaman sekolah taman kanak-kanak hingga aku memaksa untuk mulai bersekolah segera.

Ketika usia tujuh aku selalu menanti B di pukul enam sore karena pada jam itu dia akan menggandeng papaku pulang dari Jogja sambil membawa martabak manis atau kelepon raksasa.

Ketika usia sebelas aku begitu hangat dirangkul B karena di tengah kerusuhan sembilan delapan aku masih bisa minum segelas cokelat panas hasil membeli di warung tetangga.

Ketika usia empat belas perutku seperti ada si B ketika pacar pertamaku memberi hadiah ulang tahun berupa kumpulan lagu di kaset dengan track terakhir “We Are The Champion”.

Ketika usia tujuh belas aku berhura-hura dengan B setelah diperbolehkan keluar rumah hingga larut meski tiap pukul sepuluh malam telepon selulerku otomatis berbunyi dengan suara di seberang, “Kamu mau ga pulang sekalian?”

Ketika usia dua puluh satu B memberiku ucapan selamat ketika seluruh kelas studio arsitekturku berakhir. B bersama lega kala itu.

Ketika usia dua puluh empat aku banyak tertawa bersama B dan ulah impulsif sendiri, seimpulsif sepulang kerja lalu pergi ke ujung Nusa Dua demi seberkas rona senja.

Ketika usia dua puluh enam aku dan B banyak merenungi mantan kekasihku yang kedua yang membuatku mengerti arti mencintai bukan bermula dari mengasihani namun mengasihi.

Ketika usia dua puluh sembilan B menggamit tanganku yang dingin saat lelaki yang kucintai karena nasib mengiringi langkahku menuju lelaki yang kucintai karena takdir.

Ketika usia tiga puluh aku dibangunkan B dari mimpi burukku dan menyadarkanku bahwa Bandung tidak seseram dan sejahat itu.

Hari ini, B mengajakku datang di sini untuk lebih banyak mendengar.

Namun menjelang usia tiga puluh dua, B suka tak terlihat mata hingga dianggap semakin tak bisa ditemui. Iya, makin tua seolah B itu harus sekali dicari. Kadang B datang tiba-tiba, tetapi sementara. Bukan B padahal. Hanya berpura-pura B. B yang sebenar-benarnya benar tak membuat gelisah, tak membuat diteror, tak dibuntuti, tak menjadikanmu tidak aman.

Kupikir ya sudah lah, tak perlu dicari lagi. Masih bisa bangun pagi, bernafas, dan bisa tetap sehat sudah sangat layak disebut B. Dan yakini, nanti B akan datang sendiri. Dengan langkah tenang.

B itu apa? Bisa apa saja.

Bandung, 2 November 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Diam

Aku sedang dalam keadaan diam. Tidak menfasilitasi apa-apa. Tidak berani berencana akan bagaimana. Tidak ekspektasi apa-apa.

Aku sedang dalam keadaan diam. Berjalan seperti biasa. Menjalankan apa di depan mata. Menghidupi yang sekarang dipercaya semesta.

Aku sedang dalam keadaan diam. Tidak mencari tahu. Tidak berbuat seperti yang kumau. Tidak berbuat seperti yang sekitarku mau.

Aku sedang dalam keadaan diam. Berbicara hanya dalam hati. Mensyukuri nafas yang masih diberi setiap pagi. Menyerahkan apa yang terjadi nanti hanya pada satu tangan yang kupercayai.

Aku sedang dalam keadaan diam. Tetapi tidak mati.

Bandung, 25 Oktober 2018

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment