Tentang Melepas

Ada di suatu pukul tiga pagi ketika aku menyesali aku tak menjagamu sungguh. Hingga kamu pergi tanpa aku pernah memelukmu barang sekali. Lalu kejadian pada saat itu mengulang berkali-kali saat aku sepi. Cerita-cerita layak puisi berganti menjadi menyalahkan diri sendiri. Mengamini bahwa suatu saat setelahmu hadir menjadi satu yang ingin sekali. Namun waktunya yang belum tiba menjadikan amarah tak hanya satu tapi kembali lagi dan lagi. Semua menjadi salah ketika aku mendapati salahnya di diriku sendiri.

Kamu yang seharusnya hampir satu kini, tak akan pernah terganti meski mereka menganggapmu tak pernah hadir di sini. Selamanya kecup yang tak pernah sampai ini kuterbangkan ke negeri awan sana. Kini bisakah melepas tangan ini agar aku tetap bisa berdiri tegar di atas bumi?
Bandung, 18 Agustus 2017

Francessa

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Keberuntunganku – 12 Agustus 2017 (#50)

Keberuntunganku adalah masih bisa mengecupmu selalu di awal pagi. Cukup itu.

Bandung, 12 Agustus 2017

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Subuh Ini – 12 Juli 2017 (#49)

Subuh ini ada pinta dan doa baik untuk harapan baik agar segala-galanya berjalan baik-baik.

Bandung, 12 Juli 2017

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Melepas Mimpi

Punya mimpi? Harus. Apa jadinya manusia bila tak punya mimpi? Ketika mimpi ingin diwujudnyatakan, maka berusaha adalah salah satu cara berjajar dengan berdoa. Namun ketika mimpi itu akhirnya terwujud setengah dan kau harus berhenti di tengah-tengah, menyerah, lalu melepas, sungguh tidak mudah. Ada rasa tak rela lebih-lebih bila mimpimu telah kau pupuk sedari belia.

Relakanlah, manusia. Lepas mimpi yang terjadi setengah, dan biarkan mereka melanjutkannya meski tak lagi seirama. Ada setengah dirimu yang tak rela melihat setengahmu merana. Mimpi-mimpi lain sedang menunggu setengahmu untuk menjadikannya nyata.

Atau siapa yang tahu bila setengah mimpimu tadi sedang ditunda semesta? Kan?

Bandung, 4 Juli 2017

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Aku Muak Dengan Idealisme-mu – 12 Mei 2017 (#47)

Pada satu titik aku pernah terlalu muak dengan idealisme-mu. Karena bagiku idealisme tak ubahnya bentuk lain egoisme. Lalu aku tak bisa menyangkal karena begitu banyak manusia mendewakan idealisme yang adalah akar kesuksesan di kemudian hari, yang akan dilihat orang pada suatu ketika, dan diimpikan setiap manusia ketika manusia yang menjalaninya telah menutup mata. Dibungkus sebuah garansi akan tak ada kata menyesal bila menjalaninya.

Pernahkah kau di tengah perjalanan lalu sungguh lelah? Pertengkaran batin yang tak sudah-sudah. Pertentangan bertubi karena tekanan keadaan sekarang. Merobek lembar-lembar kekuatan yang tersisa di dalam rasa. Dengan labeling dari mereka yang mempunyai idealismenya sendiri.

Segala keputusan bukanlah sebuah kebetulan. Namun adakah kau mengerti bagaimana semesta bekerja sesungguhnya? Tidak, aku yakin tidak. Dugaan dan kemungkinan saja yang bisa diutarakan. Hingga rasa dalam hati bertubrukan satu sama lain mencari jawaban kebenaran yang sesungguhnya akan tiba pada saatnya ketika kita tak memperbanyak bicara, menahan lidah, dan menghentikan ketikan aksara-aksara satir di social media.

Konflik yang kadang tak bisa dicerna secara logika, mempertanyakan bagaimana seharusnya manusia bercermin pada dirinya untuk mengetahui apa yang dimau, apa yang kekasih hatinya mau, apa Sang Empunya semesta mau. Perenungan terdalam untuk kembali pada hakekatnya hidup berdampingan bagaimana sebaiknya, terantuk pembeda yang seharusnya tak menjadi perbedaan dari masing-masing isi kepala yang berbeda-beda. Beda selamanya tak bisa bersatu. Hanya perlu satu beda dijejalkan terus menerus hingga menjadikan mata buta bahwa ada satu sama yang ingin merangkul karena terlalu rindu.

Ada kalanya diam menjadi hal yang tak lagi bisa didiamkan. Kisah-kisah yang seharusnya ada namun tertekan kodrat. Lara karena keputusan-keputusan tak berkeadilan yang lahir dari…label? Nama? Sebutan? Menelanjangi kedalaman pemikiran namun menyerang identitas. Tak perlu susah hati menelisik permasalahan besar, mulai dari cermin diri. Pernahkah merasakan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tak perlu yang menyerang identitas? Debat tiada habisnya tanpa empati dan solusi berarti.

“Sekali lagi, aku muak dengan idealisme mu, bodoh!”

“Kamu yang dengarkan idealisme ku, manusia tanpa logika!”

Bolehkah aku minta tolong? Sanggah itu biar menjadi senandika hati sendiri. Mengatur kepingan cerminmu dalam doa bila terlanjur pecah oleh sengketa. Karena sungguh, aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

Dan beberapa manusia memilih menuangkannya dalam seni menyanyi, menari, puisi, musik, bunyi. Atau puisi yang menyanyi.


Bandung, 13 Mei 2017

Francessa, yang bersenandika setelahnya

PS: tenor Daniel Victor, soprano Delta Damiana, pianist Nicholas Rio, penari Galuh Pangestri. Didukung oleh Sonamusica Music Studio.

PSS: terdapat kalimat diambil dari cuplik puisi “Dalam Doaku” Sapardi Djoko Damono

Dok. @poemuse.id

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Berbenah

“Hallo Ran….”

“Masih inget aja nama asli gue.”

“Iya lah.”

Sapa itu masih jelas di kepala ketika terakhir kali kita jumpa di stasiun kereta bersama Jakarta Walking Tour @JKTgoodguide. Yang ternyata benar-benar terakhir kalinya. Ada banyak kejadian setelahnya. Kejutan-kejutan sepanjang tahun yang membuatku tersenyum. Menemukan tulisan-tulisanmu, melihat ulas bibir yang tertawa dengan gurat muka bahagia namun teduh ketika ada cincin melingkar di jari manis dan kau berdampingan bersama wanitamu, kemudian mengetahui nama aslimu setelah selama ini hanya mengenal dan memanggilmu dengan sebutan Om Em.

Satu tulisan di blogmu yang hingga kini kuingat adalah saat kau mulai mengosongkan kamarmu, menyimpan yang memang harus disimpan, membuang yang tak terpakai, memberi kepada yang lebih perlu. Ada rasa lega di hatimu ketika akhirnya merelakan “barang-barang” di kamarmu. Mulai memberikan ruang kosong untuk nanti diisi lagi oleh sesuatu baru. Aku menuruti saranmu ketika itu. Aku mulai menyeleksi barang-barangku. Terkumpul dua dus besar penuh yang telah kupilah menjadi dus yang harus dibuang dan dus yang dihibahkan. Kau benar, Em. Ruang kosong yang tercipta membuatku lebih bisa melihat luas dan bernafas. Bahkan aku menemukan hal-hal yang terselip yang ternyata benar-benar kuperlukan saat itu. Aku berbenah.

Tulisan-tulisan yang hadir untukmu melalui surat-surat cinta hari ke tujuh saat itu kubaca satu-satu. Menyentuh, Em. Aku yang kala itu telah menyiapkan satu surat, tak sanggup untuk meneruskan. Hanya tiga kalimat di awal paragraf tadi itu. Mereka yang pernah secara langsung bertukar sapa, mereka yang pernah kenal dalam kicauan twitter, mereka yang tak pernah sekalipun mengenalmu. Iya, ada banyak kata “pernah”. Karena kembalimu ke Sang Pencipta yang tiba-tiba tak meninggalkan sedikit pun jejak bahkan di dunia maya. Jejak-jejak itu hanya tertinggal ada di kepala, di kenangan, di hati. Dan melalui ratusan surat @PosCinta, mereka berbenah. Aku? Baru sekarang bisa. Sungguh sepertinya masih banyak hal yang bisa diceritakan. Seperti mengapa kau memakai nama Em dan cukup panggil aku Francessa saja.

Salam hangat dari sini, yang terselamatkan oleh karena kau mengadakan @PosCinta bersama kawan-kawan lainnya. Sedih karena kehilangan mungkin telah luluhkan semangatku. Melepas ragu ketika melalui surat-surat cinta yang manis, para penulis tanpa sadar saling menguatkan. Melalui sepucuk surat juga kami melepasmu yang pergi lebih dulu.

Senang semesta memberi kesempatan mengenalmu secara langsung, Em. Aku kini kembali berbenah.

Bandung, 29 Maret 2017

Francessa

Dok. Sam Bonaventura

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Dukungan

“Ketika sebuah dukungan tidak didukung sebuah pandangan oleh karena ketakutan akan kata keberpihakan. Ada dua masalahnya. Dari dalam hati ada ego, dari hati yang lain ada iri.

Ah..yakin seyakin-yakinnya keduanya sebenar-benarnya bukan suara hati.”

 

Bandung,  8 Maret 2017

Francessa

Quote | Posted on by | Tagged , | Leave a comment