Menerima Corona

Bermula dari awal Desember 2019, saat itu saya sedang berbincang dengan seorang sahabat, bahwa tahun 2020 kita harus waspada, dan mengontrol diri agar tidak menjadi reaktif destruktif. Tidak ada pertanda, tidak ada penglihatan segala rupa, hanya..rasanya hati berkata perlu saja. Bulan berganti bulan dan akhirnya sampailah hari ini. 16 hari #dirumahaja karena corona, dengan segala berita dan kecemasan berkeliaran di luar sana. Penat juga. Namun, hari ini saya ingin mensyukuri hal sekecil apa pun yang terjadi di 16 hari ini.

1. Rumah bersih. Setiap hari disapu, lebih sering dipel, barang tertata lebih rapi. Taman depan saja setiap hari diberesin Panda, kelinci saya. Rumput hilang, Panda kenyang, saya senang.

2. Lebih perhatian dengan orang lain. Saya rasa kamu pasti begitu juga.

3. Ngirit. Banget. Dengan catatan jempol engga usil shopping impulsif di ecommerce walapun ponsel rutin memekik, “shopee..”. Makin meleklah pentingnya dana darurat minimal 6x biaya hidup bulanan. No munafik-munafik club ya. Iya sih, uang tidak membawa bahagia, tetapi tidak memahaminya bisa membawa petaka.

4. Keahlian memasak sepertinya meningkat pesat. Walaupun tetep aja resep gampang arahan chef Rei salah eksekusi juga. Huhuhu..

5. Beberapa aktifitas kini mempunyai pilihan. Sekolah, kursus, meeting, kerja, konser, beribadah. Hanya orang-orang kreatif proaktif yang akan bertahan dan menguasai keadaan.

Dan ketika ini berakhir, kita semua akan lebih menghargai arti pelukan hangat ke orang tua, kecup kecil di dahi anak, ciuman hangat ke pasangan, berbagi minuman dan makanan di satu meja dengan sekumpulan kawan-kawan, tepukan menguatkan di pundak sahabat, dan jabat erat ketika mempercayai sesama.

Kita sedang dalam kesementaraan. Hebat sekali sudah bertahan sampai sekarang. Baik-baik, ya, kalian semua. Peluk kencang! :”)

Bandung, 2 April 2020

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Asal Muasal

Pagi menyingsing, alarm berbunyi nyaring, dan aku mulai bersiap untuk berangkat sekolah. Seperti biasa kukuncir kuncung dua rambutku di kanan kiri hingga sedikit menjulang. Sekolah tidak jauh dari rumah, jadi aku pergi berjalan kaki saja. Selang beberapa saat, aku melihat sesuatu yang tidak biasa. Aku menghampirinya. Ternyata seekor kelinci, tetapi bertelinga lebar seperti gajah. Kulihat kelinci itu sedang menangis bersedih.

“Hei..kamu kenapa menangis? Siapa namamu?”

Kelinci bertelinga lebar nampak terkejut mendengar sapaku.

“Aduh, kaget.. Hallo..namaku Panda.”

“Umm.. Namamu Panda? Tapi kelinci?”

“Iya.”

“Oh okok.. Kamu kenapa sedih?”

“Karena telinga lebarku ini, aku bisa mendengar banyak hal di sekitarku. Semua suara masuk, baik maupun buruk. Aku jadi sedih.”

Aku cuma bisa diam dan mendengar curhat panjang Panda si kelinci. Tiba-tiba Panda menunjuk dua kuncir rambutku sambil menimpali,

“Hei, telingamu bagus ya. Menjulang dan panjang. Seandainya telingaku seperti itu.”

“Ini rambut, bukan telinga. Kamu bisa kok kalau mau telingamu seperti ini. Tetapi.. nanti kamu tidak bisa mendengar banyak hal di sekitarmu, hanya yang dari kejauhan saja.”

“Bagaimana caranya?”

Aku mengambil dua karet rambut yang menguncir rambutku hingga menutupi kedua telinga. Mulai menguncir kuncung telinganya yang lebar di kanan kiri hingga menjulang tinggi.

“Nah, sudah selesai. Eh, omong-omong aku harus pergi sekarang. Nanti aku terlambat ke sekolah.”

“Waaahh..terima kasih. Akhirnya aku punya telinga panjang.”

Beratus tahun kemudian, kelinci tetap bertelinga panjang dan manusia terkadang memilih menutup telinga dari banyak hal di sekitarnya.

Bandung, 12 Maret 2020

Francessa

Posted in Uncategorized

Pacu Energi Hidup

Surya memenuhi kebutuhan rumah menjadi ramah.
Dipandang bisa menekan penyebab utama perubahan komitmen.
Surya sebagai energi ramah.
Caroline kaya akan Surya.
Tenaga Surya merupakan energi yang dapat diraih Caroline.
Berkomitmen akan terus penting sebagai sumber energi mandiri.
Dan Surya sebagai hidup baru.

Bandung, 5 Maret 2020
Francessa


Surya memenuhi kebutuhan rumah.
Menjadi ramah dipandang bisa menekan penyebab utama perubahan komitmen.
Surya sebagai energi ramah.
Di Jakarta, Caroline mengatakan kaya akan tenaga Surya.
Tenaga Surya merupakan energi baru yang dapat diraih dalam waktu singkat.
Caroline berkomitmen akan terus penting.
Sebagai sumber energi mandiri.
Dan Surya sebagai hidup baru.

Tenaga Surya untuk rumah didorong sebuah gaya hidup ramah.
Energi baru yang mengemuka dalam komitmen.
Untuk mendukung Surya dalam sebagai energi ramah, Caroline mengatakan tenaga Surya sinar sepanjang tahun.
Tenaga Surya merupakan energi baru yang dalam waktu singkat terjangkau Caroline.
Berkomitmen akan terus penting.
Sebagai sumber energi mandiri, sebagai tren hidup baru.

Bandung, 6 Maret 2020
Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Satu Kota, Dua Alpha Woman, Tiga Jam Perbincangan

“Yu, aku..udah divorce.”

Tatapannya sesaat kosong. Namun, saya yakin isi kepalanya sungguh penuh lalu melayang ke mana-mana setelah saya memberi pernyataan singkat tanpa penjelasan lengkap yang tak semua orang dapat paham. Mulutnya masih sedikit menganga. Tak sedikit pun keluar kata “kok bisa” atau “kenapa bisa”. Kepalanya menunduk. Dia mengakhiri keterkejutannya dengan mengalihkan tatapannya ke arah kedalaman mata saya dengan teduh, embus nafas panjang menyeluruh, dan sebuah pertanyaan paling empati yang sungguh penuh.

“Terus kamu gimana sekarang? Baik-baik?”

Yang terjadi selanjutnya kedua bola mata saya mulai berkaca-kaca.

***

Saya dan Ayu adalah teman lama. Meski telah mengenal ketika usia 13 tahun, namun di bangku SMA kami baru berkawan lebih dekat bersama empat perempuan lainnya, Mike, Noviana, Tin, dan Anasstasia aka Asta. Ayu yang tertua diantara kami. Enam perempuan, enam karakter, enam pilihan karir yang berbeda, dan kini terpisah di empat kota berbeda. Kesempatan-kesempatan kecil biasanya kami kumpulkan untuk menyempatkan saling menyapa dan bersua. Seperti pagi hari itu. Pagi yang cerah setelah setahun lalu kami bertemu di kota sama, Bandung. Hari itu adalah hari berbincang berdua paling lama setelah lima belas tahun pertemanan kami. Berbicara tentang kerinduan kami akan empat perempuan lain yang kini tersebar di Solo dan Surabaya, kehidupan Jakarta yang saya rindukan, kelucuan anaknya yang berumur tiga, berbagi cerita ulah kawan kantor dan staff kami masing-masing, keajaiban yang mengikuti ketika proses KPR-nya diajukan, hingga di satu titik kami menemukan benang merah diantara kami. Kami sama-sama perempuan yang mengelola berbagai hal, wanita pekerja yang harus mengatur delegasi pekerjaan (sekaligus sisi keibuan) kepada staff di bawah kami, dan diakui banyak orang sebagai manusia mandiri. Kami alpha woman.

Dok. Ayu

Ya, kami mengenali dengan baik siapa kami dan punya kendali atas kehidupan diri sendiri. Tetapi, ketika ada hal-hal di luar kendali, alpha woman pun merasakan kepeningannya sendiri. Salah satu pembicaraan kami tak jauh-jauh dari urusan financial. Suatu momok yang bukan lagi milik profesi tertentu. Meski kawan saya ini mempunyai pekerjaan yang menjanjikan, gaji yang lebih dari cukup, bertahun-tahun merintis karir di satu perusahaan internasional yang terkadang dia harus jauh dari keluarga kecilnya, saya tak menyangka ternyata dia punya cerita tersendiri.

“Cicilan KPR ku itu ya, udah motong hampir setengah dari gaji bulananku, Ran. Udah masuk floating. Jadi kaya ga nambah-nambah gitu itu tabungan. Hahahaha.. Apalagi bentar lagi baby A mau sekolah.”

Kadang kekhawatiran itu percuma, jadi hanya perlu tergelak bersama-sama saja. Mau dipusingkan bagaimana pun, tak akan pernah selesai. Saya paham tak bisa membantu banyak, karena saya tahu alpha woman di hadapan saya sebenarnya sudah tahu solusi paling bijak atas masalahnya sendiri. Dia hanya perlu dukungan tentang pilihannya. Dia hanya perlu sedikit masukan yang tentu tak langsung diterima begitu saja.

“Kadang kita tu butuh bantuan orang lain loh, Yu. Tentang financial begini, aku pernah di masa yang blas ga tahu musti gimana. Untung aku sadar, makanya cari bantuan. Masalahnya kamu mau nerima bantuan, ngga?”

“Terus terang, kadang-kadang exhausted sendiri sih. Makanya aku menggemuk ya, Ran? Hahahaha.. Jadi gimana dooong..”, keluh Ayu.

Ayu menghela nafas panjang. Mungkin paham bahwa dia jarang meminta bantuan siapa-siapa demi tidak mau merepotkan orang lain. Segala hal sebisa mungkin akan dia bereskan. Ada jeda diam di sana. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing yang kurasa masih ada kaitannya. Sebagai alpha woman, kami menyadari betul sebagai individu bebas berhak menentukan atas pikiran kami sendiri. Kami bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat dan berani ambil resiko dengan tidak selalu mengamini anggapan masyarakat bahwa perempuan harus berada di rumah atau mengurus pekerjaan rumah tangga saja. Kami tak hanya melawan anggapan itu, tetapi juga melawan pikiran negatif kami sendiri.

“Aku tanya ya, Yu, goal utamamu apa toh? Beresin pelunasan sebagian KPR, dana pendidikan baby A, atau apa? Terus tentuin investasi yang pas sesuai jangka waktu goal mu itu.”

“Nah itu dia. Apa? Hahahaha..”

“Kalau bingung, baca-baca dipelajari dulu. Kan ga semua harus kamu. Kokoh bojo pasti bisa. Aku ga bisa langsung rekomen harus investasi ini itu. Ini juga sambil belajar, Yu. Yang pasti, cek deh tentang fintech.”

Pembicaraan kami mulai menghangat, seiring dengan matahari yang mulai naik menuju atas kepala. Memang tak bisa lagi dipungkiri bahwa financial technology alias fintech di Indonesia akhir-akhir ini makin memperlihatkan taringnya. Teknologi kini mulai mendominasi, sejalan dengan generasi muda yang makin banyak berhubungan dengan dunia daring. Dukungan pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk pengusaha dan pelaku fintech tak pernah lepas sehingga masyarakat pun merasa aman dalam berinvestasi, melakukan pinjaman produktif, maupun bantuan modal. Namun, tak sedikit pula fintech illegal alias abal-abal yang malah menjerat masyarakat yang buta akan ketentuan-ketentuan pinjaman online (pinjol) dan terbuai akan kemudahan pencairan dana yang dilakukan.

Sementara itu, masyarakat kelas menengah seperti saya dan Ayu, di mana sebagai buruh korporasi yang masih bergantung dengan gaji bulanan, harus pintar-pintar memilih dan memilah jenis investasi sesuai dengan karakter investor kami dan tujuan keuangan masing-masing.

“Yu, pernah denger p2p lending?”, tanya saya. Melihat sepertinya ada kebingungan di rautnya.

“Opo kui?”

Saya tersenyum tipis. “Fintech. Peer to peer lending, intinya mempertemukan pemberi dana dan yang butuh dana, nanti ada perjanjian secara online. Ada syarat ketentuannya gitu. Misal, kita yang jadi pemberi dana nih, bakal ketulis jelas di awal imbal hasilnya berapa persen.”

“Aman nggaaa?”

Investasi aman tu investasi yang kita bener-bener paham ketentuan dan resikonya. Hahahaha.. Makanya aku masih pelajari satu-satu portfolio tiap perusahaannya. Lagi ngelirik Danamart sih. Portfolio yang ditawarin p2p lending ini dari perusahaan yang cukup gede, trus ada kerja sama dengan pengusaha yang gabung di HIPMI.”

“Hmm..nanti kulihat juga. Investasi bener-bener harus bikin kita kritis ya. Apalagi tahun ini masih pengaruh resesi. Ada corona lagi..”

“Iya.”

Perbincangan kami masih mengalir dua jam kemudian. Kami berdua tersenyum. Sungguh lucu dipikir-pikir. Berjeda lima belas tahun, ternyata pembicaraan kami makin meluas. Tak hanya tentang apa pekerjaan rumah besok, diskusi-diskusi di tempat les fisika dan matematika, atau lelaki gebetan masa-masa sekolah ketika itu. Well, yang terakhir kadang masih sedikit dibicarakan sih.. Hahahaha.. :’)

“Ran, kadang aku mikir kenapa sih kita berenam ini bisa deket begini sampe sekarang?” Saya diam, pertanyaannya tak butuh jawaban. “Aku tuh merasa kita berenam ini sama-sama alpha woman. Walaupun Mike dan Asta sekarang ibu rumah tangga ya. Asta, adek paling cilik kita itu, diem-diem begitu dulu waktu dia masih kerja kantoran.. woogh…ngeri! Dan kamu tahu apa masalah seorang alpha woman?”

“Apa, Yu?”

Ayu mengangkat lengannya agak tinggi. Telapak tangannya mengarah ke bawah.

“Ini. Tangan ini. Kita itu merasa semua bisa kita kasih, kita bantu, kita bisa terlibat terus nyelesaiin semuanya. Karena kita yakin dan percaya diri kalo kita mampu. We can handle this, we can handle that. Semua-semua kita bantu. Kita percaya harus bertanggung jawab atas segalanya dan kita sebagai penyelamat. Terus exhausted sendiri.”. Saya tercekat. Ada rasa panas di tenggorokan dan debar di dada. Kata-kata Ayu barusan ada benarnya.

“Kita kadang ga ngerasa butuh untuk kaya begini…” Ayu membalik telapak tangannya, kini mengarah ke atas dengan posisi agak ke bawah. “Ini, Ran. Kita ga mengizinkan diri kita menerima bantuan. Padahal, kita tu butuh. Ini aku bisa bilang begini, karena aku ditegur bossku. Waktu itu dia bilang, aku kaya kena Messiah Complex. Kaya aku tu serba bisa, kaya Mesias, kaya Tuhan Sang Penyelamat. Jadi yaa, kita ini masing-masing harus sadar. Ga semua bisa kita handle sendirian. Ada hal-hal di luar kontrol kita. Kita bisa ngobrol banyak hari ini, aku lagi tangan begini nih. Menerima sesuatu. Jadi ada pandangan bikin budget plan dan kebuka pandangan investasi kan? Kamu sendiri, iya masa-masa itu sudah lewat. Tetapi, ini. Inget, ada posisi tangan ini loh.” Saya masih terkesiap. Tak ada debat selain mengiyakan saja.

Sore itu, saya mengantar Ayu, suami, dan anaknya ke stasiun kereta pulang menuju Jakarta. Meski tak ada peluk ketika melepas perginya, tetapi masing-masing hati kami paham bahwa telah saling mengisi dan menguatkan. Hari itu saya meyakini sesuatu. Saling berbagi ilmu dan pengalaman memang tak pernah membuat diri sendiri menjadi berkekurangan.

Dok. Ayu

Lalu lintas Bandung yang makin padat, saya lanjutkan sendiri menuju pulang. Telepon seluler di tas saya terus berbunyi pertanda notifikasi whatsapp yang masuk sepanjang perjalanan dan baru saya baca ketika tiba di rumah. Dari Ayu.

“Ran, tadi denger ceritamu, the first thing that got into my mind is “how come I wasn’t there when u face all that?” I don’t want to force you to be strong or what, just to love yourself more and go through this process with God. Nothing happens without His permission. Your sadness or anger, you know that you have friends like us who want to share it, right? Not just your happiness. No matter how ugly or broken our lives may be according to what people say, we belong to each other, and we will always be MANTRA family. Much love for you, Ran”

Saya tak kuasa berkata-kata selain satu hal di benak. Beruntungnya saya bahwa semesta menempatkan lima perempuan hebat dan Ayu salah satunya dalam kesementaraan fase perjalanan hidup saya di dunia. They are my forever five alpha women squad.

Bandung, 2 Maret 2020

Francessa

#literasikeuangan #literasikeuanganfrancessa #investasifrancessa #writingcommissions

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sungguh Tanpa Sanggah Sejenak Singgah

Di sekerat pagi ketika deru mereda di gerbang depan untuk kemudian nyanyi pujian diterbangkan. Itu tiga belas tahun yang lalu.

Di pekatnya kelam ketika milyaran pasang mata telah lelap dan pertama kalinya murka menguar atas suara-suara yang tak tahu apa-apa. Itu dua belas tahun yang lalu.

Di teriknya surya atas pasir putih milik dewata ketika kita tak banyak bertegur sapa. Itu sebelas tahun yang lalu.

Di empat puluh lima menit bersua ketika mengumpat menjadi layak atas nama semena-menanya harga hidangan yang kita santap bersama. Itu sepuluh tahun yang lalu.

Di hiruk pikuk yang terus menerus bersuara ketika jarak menghajar kesempatan hingga terlampau lelah. Itu sembilan tahun yang lalu.

Di derasnya hujan ketika satu hari penuh tawa atas peristiwa yang terus menerus diulas dalam kenang. Itu delapan tahun yang lalu.

Di detik-detik menuju subuh ketika kata “mengapa” dipertanyakan berulang-ulang sementara keningku di saat yang sama berharap pernyataanmu tiba lima belas hari lebih cepat. Itu tujuh tahun yang lalu.

Di pembicaraan yang dalam ketika saling mendoakan untuk bahagia masing-masing adalah ikhlas terhebat sepanjang masa. Itu enam tahun yang lalu.

Di bawah rindang pepohonan ketika kau mendampingiku dari belakang. Itu lima tahun yang lalu.

Di suatu rumah dengan pemandangan hamparan sawah ketika kita bertukar sekian belas rencana dan cerita. Itu empat tahun yang lalu.

Di sehening tenang ketika berada di tengah-tengah. Itu tiga tahun yang lalu.

Di kehampaan ketika keadaan tak sesuai yang masing-masing dibayangkan hingga hanya bisa berserah. Itu dua tahun yang lalu.

Di dua mangkok berisi misua, telur, bubuk bawang putih, dan perbincangan sehari hari ketika menerka sebuah kemewahan. Itu satu tahun yang lalu.

Di perayaan mingguan ke sekian ratus kalinya ketika mendengar pernyataan bahwa suatu hari nanti kita pasti dipakai-Nya sebagai alat dan penyelamat bagi sesama. Itu tiga puluh sembilan hari yang lalu.

Di sesaat setelah senja redup ketika dua lengan ini menopang kepala dan tangan lunglaimu untuk terakhir kali. Itu tiga puluh delapan hari yang lalu.

Di luasnya angkasa tanpa aurora hanya ada awan saja ketika kesementaraan telah usai. Itu tiga puluh enam hari yang lalu.

Tenanglah dalam hening. Nanti kita akan menemukan cara untuk jujur tanpa sanggah atas sungguh yang sejenak singgah.

Bandung, 20 Februari 2020

Francessa

Posted in Uncategorized

A Prayer From and For Musicians

We gathered here, and raised our hands
To beg and ask, dear Almighty
To all who praised the Creator
We humbly ask Him for His grace
A prayer from and for musicians

Let us sing wholeheartedly
Let us write the song for Thou art
Let us play all the instruments
Only to please You, O Lord

Let us voice the good and the bright
Let us make melodious parts
Let us arrange the melody
Only to please You, O Lord

Let us form a great symphony

Let us join, be in harmony

Let us be away from envy

Only to please You, O Lord

Let us proclaim adoration
Let us be Your hand’s extension
Let us be guided by the Holy spirit..

Only to please You, O Lord..

We gathered here, and raised our hands
To beg and ask, dear Almighty
To all who praised the Creator
We humbly ask Him for His grace
This is..
A prayer from and for musicians

Bandung, 18 Februari 2020
Francessa
Catatan: merupakan lirik lagu yang akan digubah oleh Nicholas Rio, perdana untuk St Angela Choir Bandung tahun 2020

Posted in Uncategorized

Ok

For a while,

Everything is ok.

Everything looks like ok.

Everything on the way to be ok.

But suddenly, everything is not ok.

Every single wise words about everything will be ok, seems not ok.

Everything to make me feel sane, it turns me not ok.

Everything is not ok when my mind said it’s not ok.

Oh, mind please stay.

Be honest and make a way.

Hmm..

Ok, everything.

It’s ok if you are not ok.

Just you. Not me. Yes, you. Everything.

Because I’m not your everything.

Because you’re not my everything.

I’m ok. You’re going to be ok. Then we’ll be ok.

Let’s make a deal, ok?

It will be really ok to start looking at everything as being on loan.

In the end, we are just His gift for everyone to steward,

For a while.

Bandung, 23 Januari 2020

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment