Pada Suatu Hari Nanti – 12 Februari 2017 (#44)

Kesalahpahaman percakapan. Peningnya kepala karena tagihan bulanan. Ketidakpahaman maksud dan tujuan gegara kelelahan dalam perjalanan. Bukankah itu yang beberapa hari ini terjadi pada kita? Menangisi ketakutan yang belum terjadi atau mengkhawatirkan rencana. Melupa pada keimanan diri bahwa keyakinan dan cinta yang dicurahkan pada setiap yang kita lakui hanya Ilahi yang restui.

Gegabah bila terlalu cepat aku mengubur mimpi-mimpi yang menunggu waktu terealisasi. Dapatkah kita mengelabuhi waktu dengan kerasnya diri berusaha agar aku tak terlalu lama menunggu? Kemustahilan sudah kubuang jauh-jauh dari kepalaku. Kujejali harapan semacam “semoga pada suatu hari nanti” meski tahu teriring dengan tak hanya seulas senyuman namun juga sebongkah kekecewaan.

Menyaksikan ini seakan membawaku ke masa depan ketika lelaki itu nanti kamu dan mereka cinta kita. Pada suatu hari nanti.

Boleh?

Bandung, 12 Februari 2017

Francessa

Tribute untuk mereka yang sedang menunggu kehadirannya

Dok. Budi Santoso

 

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Nak

Nak,

Kumulai suratku dengan kata-kata, “banyak hal yang belum dan tidak pernah tersampaikan kepadamu sebelum kita berpisah.” 

Yang seharusnya juga cinta, peluk hangat, dan kecup lembut di pipimu ketika terlelap. Sungguh dalam tiap detik yang terlewat dalam sendiri, merindukanmu menjadi kegiatan yang tak bosannya kujalani. Melalui berkas mentari pagi yang menyinari jendela ruang tidur ini, hati selalu menyapa engkau hai malaikat kecil.

Nak,

Aku masih mengingat satu hari ketika melihat bulatan kecil menuju sebuah kehidupan. Yang berdiam sendiri dalam sunyi dan kini menjadi kewajibanku menjagai. Tanpa sekedip, tanpa kata, hanya diam mengagumi. Bahwa engkau menuju ada. Seketika bahagia ini membuncah, rasa takut pun menyeruak, dan kemudian hati entah mengapa mulai berlapang dada kepada segala kemungkinan yang akan ada. Terbaik, terburuk, semenyedihkan pun.

Nak,

Nyata-nyatanya sungguh berbeda. Yang tiba-tiba tiba lalu pergi tanpa bicara ini mengejutkan sekali. Deretan malam ketika mengelus perut dalam diam menjadi satu-satunya caraku berkomunikasi. Menunggu waktu temu yang tertahan oleh jarak kepada lelaki yang kucinta sedikit terobati terganti rindu kepada detak yang kunanti-nanti. Cinta bentuk apa kepada yang hanya nyaris ada?

Nak,
Tenanglah di sana, aku yang sedang berada di gerbong berbeda ini akan terus berusaha baik-baik saja. Kau sudah satu kereta bersama Yang Kuasa bukan? Tolong tanyakan, bila segala hal di kehidupan telah tertulis oleh Sang Maha, kehilanganmu mungkinkah cara-Nya agar aku sehari lebih dewasa menanti seseorang yang akan kupanggil “nak” juga? 

 

Bandung, 10 Februari 2017

Francessa

Tribute untuk para wanita yang nyaris menyandang sebutan mama

Dok. Sam Bonaventura

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Ada

Mencintaimu tiba-tiba ini tak perlu diumbar mana-mana. Melagukan gundah pun pilu cukup diam-diam seolah bercakap dengan engkau saja. Bermain dengan tanda tanya atas segala macam pertanyaan yang tak sempat terlontarkan saat menungguimu berbaring lemah di sana. Hanya mata saja mampu siaga dengan lidah kelu tak bicara.

Mampukan aku ketika segala takut merenggut. Jadikan aku selalu wanita terbijak bagi lelaki yang membawa separuh jejak jiwamu. Lalu penuhi aku dengan kalimat penghiburanmu yang pernah sudi menghampiri meski tak lama kunikmati. Aku tahu pasti ke mana engkau bermuara. Dan biarkan lengan ini mencemburui rindu dan doa yang lebih sering memelukmu itu.

“Maaf ya, papa ga bisa ada di pernikahan kamu.” – Papa yang saat itu terbaring sakit di rumah sakit.

Pa, maafmu waktu itu sebenarnya sungguh tak perlu ada. Yakinku engkau ada di tengah-tengah kami mengucap janji. Sekalipun kita tidak lagi di jingga senja sama, namun kutahu engkau selalu ada mengamati dari atas sana.

Pa, apa kabar? Di surga sehat?
 

Bandung, 9 Februari 2017

Francessa

Tribute untuk papa mertua

Dok. Otto Sidharta

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Siapa

Siapa yang menyangka bila diam-diam menangis sendirian menjadi candu melewati malam-malam?

Siapa yang menduga gemetar gentar tak henti menyiksa kepala hingga titik ingin membenci diri sendiri?

Siapa terjerat ingin?

Siapa terpukau angan?

Siapa terbuai angin?

Ya kamu sendiri!
Bandung, 20 Januari 2016

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Siapa Gue? Siapa Elo?

​Beberapa waktu lalu, lini masa sosial media khususnya twitter begitu booming dengan kalimat-kalimat seperti, 

“apalah aku? butiran debu”

“siapa gue? cuma remahan rempeyek”

“duh siapa aku? aku kan bukan siapa-siapa bla bla bla…”

Yang intinya mencoba bersikap rendah hati, namun menurut saya, sekali lagi menurut saya yaaa, malah merendahkan lawan bicaranya. 

Jadi, terkadang kalau tiba-tiba muncul pernyataan serupa seperti itu di socmed pribadi saya rasa-rasanya ingin menimpali, 

“iya elo emang butiran debu, cuma remahan rempeyek, elo emang bukan siapa-siapa bla bla bla…”

.

.

.

Sembari ada emoticon 🙂 di belakangnya.
Bandung, 11 Januari 2017

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dance – 12 November 2016 (#41)

​So many things happened this year. Tears and laugh blend together in our path after marriage life. The day when we share another happiness to universe. First our @banjjagbanjjag.id , second @sonamusicamusicstudio collaborate with our best mate. 

No matter what happened next, I’ll be thankfull to Almighty God because He gives us time doing something together. In the sparkling night sky or under the rain, thank you spend your time dancing with me 🙂

Bandung, 20 November 2016
Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memelihara

“Memelihara jarak dan rindu terkadang perlu.”

Bandung, 28 Oktober 2016

Francessa

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment