Pesan Persik

Wajah Rinjani masih terpulas oleh sapuan bedak dan perona pipi. Gincu warna nude-nya sedikit pudar karena menempel di bibir gelas ice tea favorit yang diminumnya. Rambutnya yang sedari awal digelung kini terurai, menyisakan gelombang pada tiap helainya. Baru saja dia selesai mengikuti sesi pertama rapat kerja nasional yang oh..sungguh menjemukan. Para pengembang sedang berlomba mengemukakan presentasinya untuk jadi yang terdepan. Mereka sepertinya lupa ada hal mendasar yang sudah bukan lagi menjadi rahasia agar segala hal dapat cepat terlaksana. Masih ada kelanjutannya sekitar satu jam lagi. Dengan sadar diri Rinjani menepi di meja paling sudut untuk sekadar mengurai penat yang mengisi. Ditiliknya ponsel dari saku blazernya, mendapati sebuah pesan singkat.

“Kue kibidango sudah dibagikan. Anjing, monyet, dan burung pegar sudah setuju bergabung. Pulau raksasa sebentar lagi kita kuasai.”

Rinjani hanya bisa tersenyum penuh arti. Dia menyendok buah persik yang tersisa dari ice tea di hadapannya. Mengulum rasa manisnya. Tertulis nama pengirim pesan itu Momotaro.

Bandung, 19 September 2019

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Malam Ini Tidak Ada Hujan

Sebelumnya, diletakkanlah aku di atas meja yang tertutup kain hijau tua. Pada satu bidang yang untungnya masih rata. Sehingga aku masih bisa berdiri bersahaja. Dengan perlahan tiba saatnya segala rasa yang pernah di dalamku tergantikan menjadi tak berasa. Bukan lagi manis, asam, pahit, tawar, atau segala yang terlalu. Cairan yang dikucurkan kini hanya memberi rasa lega melulu. Dahaga terselesaikan, kesegaran disegerakan. Perbincangan tentang bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan bukan tentang kenapa yang telah lama terbentang, kini ada pada dua manusia diantara bintang.

“Aku ambilin air putih lagi ya.”

Kemudian yang tersisa hanya terbahak. Ternyata cukup itu lebih dari cukup.

.

Bandung, 12 September 2019

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rusa, Buta, Pencipta

“Bagaimana kalau aku bercerita ini sambil kita berjalan-jalan di hutan? Prok prok prok prok, maju jalan, kanan kiri kanan kiri. Berbaris depan belakang ya. Ayo kita berjalan. Nah, kita akan bercerita tentang satu ciptaan Tuhan yang kita namakan rusa. Rusa itu bisa berjalan tenang seperti yang kita lakukan sekarang, tetapi bisa jalan cepat juga kalau ada bahaya. Kalau kita berjalan dengan dua kaki kanan kiri, rusa sedikit berbeda. Rusa berjalan dengan empat kaki. Maju kanan depan, lanjut kanan belakang, maju kiri depan, lanjut kiri belakang. Begitu terus bergantian.

Coba kita sekarang pegang tangan kita. Ini namanya kulit. Halus, licin. Rusa punya kulit juga, lebih halus dan lembut, tetapi beda dengan kulit kita. Itu yang namanya beda tekstur. Sekarang pegang kepala kita. Ada apa di sana? Betul, ada rambut. Nah kulit rusa di seluruh badan itu perpaduan kulit kita dengan tambahan rambut yang pendek dan tipis. Apa itu pendek? Coba kita pegang rambut dari kepala, pegang rambut, lalu tarik sampai ujung. Kalo sebentar sekali lalu lepas, itu namanya pendek.

Sekarang pegang kepala lagi. Kita punya rambut ya di sana. Ayo kita pegang kepala sambil jalan maju lagi. Eee.. stop stop! Kalian hampir menabrak pohon! Pohon ini ciptaan Tuhan juga. Coba raba pohon itu. Dorong! Wah, tidak bisa gerak ya? Yang diraba itu namanya batang pohon yang keras. Coba tangan kalian tetap pegang pohon itu lalu naik ke atas. Loh loh, apa yang terjadi? Tangan kalian berpindah ya? Batangnya ada jadi berapa? Dua? Tiga? Lima? Wah ada yang dua lalu jadi empat? Ada banyak.. Itu namanya cabang pohon. Bayangkan sekarang, cabang pohon yang keras itu ada di kepala rusa. Wow! Di kepala kita cuma ada rambut, di kepala rusa ada cabang pohon keras. Buat rusa, kita namakan tanduk.

Naaah.. apakah kalian bisa membayangkan bagaimana bentuk rusa sekarang?”

Lalu seorang anak yang buta sejak lahir menyahut,

“Iya, aku bisa. Yang kakak ceritakan barusan persis seperti yang Tuhan tunjukkan di mimpiku semalam. Ternyata itu ya namanya rusa.”

Begitulah adil. Ketika tak mampu melihat, akan diperlihatkan dengan cara-cara yang tanpa terlihat.

Bandung, 5 September 2019

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sreeeeng..

Suatu hari di waktu senggang, Dewa Lyfe mengamati para manusia berdosa yang antre di simpang kehidupan untuk penebusan dosa sebelum dilahirkan kembali.

“Hei kamu, sini dulu deh…”

Saya melihat kanan kiri, memastikan benar saya yang ditunjuk. Setelah merasa yakin bahwa benar dipanggil, akhirnya saya menghampiri Dewa Lyfe.

“Kamu saya reinkarnasikan menjadi masakan saja ya. Supaya hidup kamu itu lebih guna. Betul ngga, dew?”

Dewa Lyfe meminta persetujuan Dewa Ish, dewa kebajikan.

“Ish..pusing deeeh eikeee.. Ya terserah kamu aja deh, Lyfe”

Paham kan kenapa namanya Dewa Ish?

“Tetapi kamu boleh pilih kok mau jadi masakan apa. Adil kan?”

Sahut Dewi Gud, dewi kebaikan. Sungguh dewi satu ini memang baik sekali.

Saya sempat bingung. Jadi apa ya? Biar bisa lebih berguna buat siapa saja.

“Dewa dewi, saya pilih jadi telur dadar kecap manis minyak banyak ya. Simple, ga ribet, ga neko-neko Selain itu saya ingin menghargai dewa dewi sekalian yang sudah memberi saya kesempatan ini. Kenapa? Because lyfe ish guuud..”

Bandung, 29 Agustus 2019

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Aku dan Mentega

Sudah semenjak aku kecil, tidak pernah sekalipun aku lepas untuk menjilatinya. Aku selalu suka mengulum-ngulum hingga keluarlah sensasi rasa gurih dan asin setelahnya. Kalau tiba-tiba ketahuan madre, dia langsung meneriakiku “Haduuuuhh..itu ngapain jilat-jilat begituan??” Mau bagaimana lagi kalau aku suka.

Biasanya aku menyembunyikannya untukku sendiri di balik bulatan-bulatan telur atau kularutkan dalam cairan putih yang kuhangatkan dengan api kecil. Di lain waktu kuminta dia menyamar menjadi yang paling lembut lalu kuselipkan diantara tubuh bulatku. Kalau aku sedang sauna, waaahh..melelehlah ia menjadi larutan keemasan yang paling cantik di dunia di lubang dalam. Kadang kala sebelum sauna aku minta dia menyelimuti sekujur tubuhku dengan rata supaya aku merasakan kehangatan yang tiada terkira, ujung-ujungnya tubuhku terasa terbakar hingga kecoklatan. Panas!

Aku tak bisa lepas, aku tahu perpaduanku dengannya ini sungguh tak sehat. Semakin banyak kami saling mendekap, semakin nikmat. Begitu banyak yang membenci kami sebenarnya. Manusia-manusia munafik yang merasa tubuhnya paling bersih, selalu memicingkan mata seolah kami berdua itu sebuah kesalahan. Masaaa? Masa bodoh!

Madre sungguh menempaku habis-habisan. Suatu kali pernah dia memisahkanku dengan kesenanganku ini. Aku dibiarkan dan diproses oleh madre saja. Hasilnya? Aku mengeras. Tak ada kelembutan yang didamba anak-anak dari orang tuanya. Apakah sehat? Kata orang-orang aku menjadi lebih sehat. Namun, aku tidak melihat orang-orang lebih bahagia.

Tak apa, aku tahu bahwa kecanduanku ini masih suka membuat orang lain senyum-senyum sendiri. Mau dibilang sebongkah dosa, mau dibilang hina, bodo amat.. Aku tahu telah membawa kesenangan sesaat bagi mereka-mereka yang masih terjaga di petang malam atau menyambut di kala pagi memulai hari. Bersama segelas susu atau secangkir kopi. Aku dengan adiksiku, mengubah diri menjadi roti.

Ada yang mau martabak manis? 😊

Bandung, 22 Agustus 2019

Francessa

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Biasa

Apa rasanya?

Kamu berada di antara jeda yang terpisah jauh dan lama. Melambat pada angan yang tersedak pertanyaan kapan pulang. Di sisi lain, ada pulang yang bukan ke mana, ada pulang yang bukan ke siapa. Karena ada yang tak tahu pulang itu apa. Wajar bila memintamu pulang itu sulit.

Tak sampai hati mengkalkulasi patah hati. Ketika apa-apa yang tertulis dulu menjadi jawaban atas mengapa-mengapa yang berkeliaran sekarang. Kamu telah menanggalkan jejak pada langkah-langkah. Serta meninggalkan jeda pada kata-kata. Namun, sekalinya kembali ke situ-situ juga. Sehebat bersetia untuk melepas. Kalau kepalamu begitu berat sampai tak bisa bangun dari kasur, mungkin karena terbuat dari batu.

Di suatu waktu kamu sungguh ingin merangkul tanpa perlu alasan rindu. Saling mencium pipi setelah terbersit letih atas apa yang masing-masing sedang dijalani tanpa ragu. Lalu mengecup bibirnya yang lebih banyak diam membeku. Hingga nanti pada satu titik renta semua menjadi tak lagi terburu-buru.

Kamu mencintai dengan tidak menggebu-gebu, sayang yang cukup, dan tidak ada debar-debar ketika bertemu. Kamu hanya merasa tidak apa-apa duduk di dekatnya, menikmati tiap mili ruang meski masing-masing sedang mengerjakan perihalnya tanpa terkekang. Hingga lautan selesa pesta pora di atas meja dan tawa canda duduk mengelilinginya.

Aku tanya sekali lagi. Apa rasanya? Semuanya terasa biasa. Dia nampak pada isyarat, tanpa ada lagi syarat.

Bandung, 20 Agustus 2019

Francessa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Seruput

Tulisan ini perihal sebuah rangkaian kehidupan makhluk hidup yang memaknai komunikasi menjadi suatu kunci sebuah relasi. Bagaimana mereka membawakannya dengan berbagai media yang ada hingga terlahir sebuah makna. Yang selanjutnya bisa menjadi sebuah sesuatu yang manis saja atau entah apa.

Manusia, dengan beragam persona dan pesona pada umumnya memilih mengutarakan komunikasi ini dalam rangkaian media yang membuat nyaman saja adanya. Sayangnya ada saja mereka yang begitu asyik bermonolog, mencoba membagikan segala macam yang ada di kepala, tetapi lupa pada pentingnya makna dialog. Monolog yang tak tepat. Seperti halnya diam lalu menjadikan asumsi sebagai keriuhan komunikasi atau menyuarakan emosi hingga melupa ada hati yang harus dijaga sampai mati. Penyampaian ini haruslah tepat menemukan wadahnya, perantaranya, serta ruangnya hingga tercapailah tujuan baiknya.

Manusia yang bersosialisasi sudah tentu menjalani perjalanan penuh gelombang ria pun nestapa. Dialog yang disusun sedemikian rupa menemukan berbagai cara penyampaian seiring kebutuhan dan trend yang ada. Diantaranya adalah makanan dan minuman. Sudah bukan lagi menjadi basa-basi. Terlalu banyak keberhasilan perjalanan komunikasi yang terjadi hanya karena menambahkan sepiring fettucini carbonara dari restoran ternama atau mungkin hanya segelas teh tawar seduhan dari ceret besi penuh jelaga di pos ronda. Bila bisa menilik rekaman masa kecil, siapa diantara kalian yang bercerita banyak hal kepada orang tua di waktu makan malam dengan masakan rumah yang tersaji di meja makan? Atau bayi-bayi yang baru bisa berkomunikasi dengan cara menangis lalu menemukan kenyamanan seorang ibu dengan ASI? Sejak manusia lahir, makanan dan minuman menjadi sarana yang tidak asing lagi dalam berkoneksi.

Pertanyaannya sekarang adalah mana yang paling efektif? Bisa semuanya, bisa juga tidak ada. Namun bila ada pertanyaan lain yang mengikuti, mana yang paling murah diantara keduanya? Saya pastikan minuman adalah pilihan media perjalanan termurah dalam membantu relasi berkorespondensi.

| Cheapest flight.

Menuang gagasan, ide, cita-cita, mimpi dalam secangkir visi menuju suatu misi. Dalam hal ini, komunikasi diutarakan pada seduhan kopi, teh, air putih, lemon hangat, atau apa saja ke dalam cangkir-cangkir, kemudian diseruput bersama dengan gestur tangan yang berupa-rupa dan beragam ekspresi. Saya jadi teringat salah satu falsafah Jawa yang sekiranya bisa juga mewakili karya ini.

| Wong urip iku mung mampir ngombe.

Bandung, 15 Agustus 2019

Francessa

yang menulis ini terkhusus untuk “Cheapest Flight” oleh Tommy Aditama Putra di Ruang Tuang Ide Kofieloka – September 2019. Terima kasih atas kesempatannya.

Dok. Donny Hernando, Roland Septiady, Ruri Fitriyanti

Posted in Uncategorized | Leave a comment